BELAJAR DARI KESALAHAN DI DUNIA DIGITAL

Dalam setiap proses belajar, baik proses belajar anak maupun orang dewasa, melakukan kesalahan adalah hal yang sangat wajar. Hampir tidak mungkin ada pengalaman tanpa uji coba,  apalagi dalam hal pengasuhan anak di era digital ini, di saat rasa ingin tahu anak melampaui pemahaman orangtua (dan guru) terhadap media digital itu sendiri.

Yang paling penting adalah bagaimana semua pihak dapat mengambil manfaat dari kesalahan yang terjadi. Dikatakan di sini ‘semua’ pihak karena orangtua dan guru sebagai pihak yang lebih dewasa, juga wajib belajar dari kesalahan anak. Orangtua dan guru wajib mengambil peran ‘memberdayakan’, bukan ‘melindungi’. Tipe pengasuhan yang ‘memberdayakan’ adalah yang mendorong dan membantu anak dalam menghadapi masalahnya sendiri, bukan justru melindungi dan mengambil alih masalah.

Kesalahan apa saja yang paling umum dilakukan anak secara digital? Tentunya cukup beragam, tapi yang paling umum dilakukan anak adalah:

Posting data pribadi atau keluarga, misalnya nomor telepon atau secara rutin menginformasikan lokasi kegiatan.

Menyebarkan informasi buruk tentang temannya ke berbagai media sosial/grup chat sehingga informasinya menjadi masif (ini sama dengan cyberbullying/perisakan dunia maya).

Mempermalukan diri sendiri, misalnya mengirimkan foto diri dengan pakaian tidur.

Aktif secara digital sehingga terganggu dalam mengerjakan tugas sekolah.

Apa pun bentuk kesalahan anak, anak belajar dari respons yang ditunjukkan oleh orang dewasa di sekitarnya.

Oleh karena itu, penting untuk:

  1. Bersikap tenang

Jika kita tenang, anak juga dapat berpikir jernih. Pada dasarnya, ada dua kemungkinan yang dirasakan anak, yaitu tidak tahu akan dampak perbuatannya atau malu dengan kesalahannya. Marah, membentak, atau respons lain yang semakin mempermalukan anak tidaklah membantu.

Menenangkan anak dapat dilakukan dengan cara duduk bersama anak. Ajak bicara dan lakukan kegiatan yang tidak berkaitan dengan masalah agar pikiran tenang dulu. Mengingatkan anak mengenai situasi yang tidak mengenakkan, tidak akan membantu sama sekali.

  1. Membantu anak untuk memahami kontribusinya dalam permasalahan

Jika anak sudah tenang, diskusikan mengenai perannya dalam masalah. Pada bagian ini, penting untuk membicarakan dampak kesalahan anak pada kehidupan temannya atau pihak lain yang dirugikan. Misalnya, saat anak menyebarkan cerita buruk tentang temannya:

– Apa yang sebenarnya kamu lakukan?

– Apakah kamu hanya meneruskan cerita tersebut? Ataukah kamu ikut menyusun ceritanya?

– Terbayangkah apa yang dirasakan oleh temanmu itu?

– Bagaimana temanmu harus datang ke sekolah setiap hari di mana semua orang sudah mendapatkan informasi buruk yang bahkan belum tentu benar tersebut?

  1. Menyepakati hal-hal yang harus dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab

Jika anak sudah memahami perannya dalam masalah, akan lebih mudah untuk mengambil keputusan berlatih ‘apa langkah selanjutnya’. Skenario pertanggungjawaban perlu dila-kukan, misalnya membuat pernyataan maaf karena menyebarkan informasi yang tidak benar atau mendatangi pihak yang dirugikan dan menyatakan penyesalan secara verbal. Apa pun bentuknya, bersama adalah proses yang penting dan pastikan kita mendampingi anak sampai proses pertanggungjawabannya selesai dan benar-benar terlaksana.

Mendampingi di sini maksudnya adalah menemani saat anak menyusun pernyataan maafnya, termasuk berdiskusi jika per-nyataan tersebut dirasa kurang, bahkan memastikan bahwa pernyataan maaf tersebut benar-benar dikirim oleh anak.

  1. Mengingatkan mengenai kese-pakatan bersama

Misalnya, anak harus ‘cuti’ dulu dari media sosial dan mempelajari dulu dos and don’ts berperilaku digital.

Empat poin di atas adalah hal-hal yang bisa dilakukan oleh orangtua dan guru untuk membantu anak menyadari kesalahannya dan segera memperbaiki. Tapi pada dasarnya untuk setiap kasus, ada hal-hal spesifik yang bisa dilakukan, baik untuk pencegahan maupun solusi.

Berikut adalah contoh untuk kasus cyberbullying:

(1) Bangun jaringan pengaman untuk anak. Pada tahap usia tertentu, biasanya usia remaja, anak menolak untuk berkomunikasi dengan orangtuanya. Oleh karena itu, dukung anak saat ia menunjukkan kedekatan dengan orang dewasa lain yang bisa dipercaya, seperti guru, pelatih, om/tante. Hal ini bisa membuat anak percaya bahwa orangtua memahami situasi kompleks yang dihadapi dan membentuk ‘tim’ bantuan sehingga anak tidak menjalaninya sendiri.

(2) Jika anak tidak bisa ‘melawan’ atau menentang pelaku bully, ajak anak untuk membantu korban dalam mengatasi dampaknya, misal dengan menyampaikan bahwa ia tidak mendukung bully dalam bentuk apa pun dan karena alasan apa pun serta bersedia menemani jika korban membutuhkan bantuan.

Anak juga dapat menyatakan dukungannya dengan mengatakan: “Saya tahu apa yang sedang terjadi di dunia online dan saya ikut menyesal atas apa yang menimpa kamu. Saya tidak setuju akan hal itu dan menurut saya, jahat sekali orang yang berkata demikian. Jika kamu butuh teman bicara atau apa pun yang kamu butuhkan, kasih tahu saya, ya.”

(3) Tunjukan aksi yang strategis bahwa ada langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan oleh korban:

– Menjadi pendengar yang baik

– Tunjukkan pada korban bahwa ada cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengeblok pelaku secara online.

– Ajarkan korban bahwa ia dapat mela-porkan perilaku bully. Bukti perbuatan pelaku dapat dicetak atau di-screenshot.

– Tunjukkan bahwa banyak hal baik yang dapat dilakukan dengan Internet dan teknologi serta dengan cara yang kreatif.

Fakta Singkat Panduan 1 jam