Panduan Kesepakatan

Tahun ajaran baru adalah awal yang baik dan kesempatan yang tepat untuk meneruskan kebiasaan baik dan membangun kebiasaan baru yang belum pernah/sempat dilakukan sebagai bagian dari refleksi bersama tahun ajaran sebelumya.

Kesepakatan adalah cara yang efektif untuk mencegah berbagai masalah disiplin, termasuk disiplin dalam penggunaan gawai. Bukan hanya disiplin dalam hal waktu/durasi penggunaan, tapi juga dalam hal-hal lain yang tak kalah penting: tertib dalam etika, memilah dan memilih informasi sebelum menyebarkan, bijak dalam memberikan komentar, dan lain-lain.

Kesepakatan perlu diterapkan dalam ber-bagai situasi dan latar belakang: sekolah dan rumah yang utama, namun juga dalam situasi sosial lainnya: di tempat kursus, klub olahraga, grup alumni, dan lainnya. Kesepakatan memberi kesempatan kepada semua pihak untuk terlibat dan merasa berdaya, tidak semata menjadi objek sebuah peraturan atau kebijakan.

Contoh kesepakatan yang dapat dibuat:

(1) Kesepakatan dalam grup chat
Di awal tahun ajaran baru setiap kelas membuat grup chat dengan tujuan memudahkan komunikasi, terutama dalam diskusi untuk mendukung belajar yang efektif. Pastikan fungsi grup ini sesuai tujuan awal. Buat kesepakatan yang mendukungnya.

(2) Kesepakatan media sosial
Pastikan siswa/anak paham bahwa tujuan kesepakatan media sosial adalah untuk mencegah terjadinya hal buruk, seperti cyberbullying, intoleransi, menghindari predator karena menunjukkan diri yang berlebihan.

Orangtua dan guru perlu menjadi teladan baik dalam hal ini.


Prinsip-Prinsip Kesepakatan

  1. Melibatkan semua pihak

Kelebihan dari kesepakatan adalah sifat kepemilikannya. Saat semua pihak terlibat, tanggung jawab didorong dari dalam diri. Pastikan siswa/anak memahami tujuan dibuatnya kesepakatan, yaitu panduan berperilaku baik dalam keseharian, baik di dunia online maupun offline.

Contoh: Kesepakatan berlaku untuk semua, bukan hanya untuk siswa/anak, tapi juga untuk guru/orangtua. Pertimbangkan juga berlaku untuk petugas keamanan, staf administrasi, dan pihak lain dalam situasi sekolah. Dalam situasi rumah, kesepakatan juga berlaku untuk nenek/kakek yang tinggal serumah, asisten rumah tangga, dan pihak lain yang tinggal bersama di rumah.

  1. Memuat nilai yang dianggap penting

Pastikan siswa/anak paham bahwa dunia online dan dunia offline adalah dunia yang sama-sama memerlukan etika yang baik. Semua hal yang tidak pantas dilakukan di dunia offline juga tidak pantas dilakukan di dunia online.

Contoh: Menyebarkan informasi hanya yang telah terkonfirmasi bukan hoax dan tidak mengandung SARA.

  1. Dipahami oleh semua pihak

Pastikan semua pihak mendapatkan kesempatan untuk merespons dan berperan aktif dalam pembuatan kesepakatan. Hindari pembuatan kesepakatan sekadar untuk mendapatkan persetujuan.

Contoh: Orangtua/guru dapat membantu dengan mengajukan pertanyaan: Bagaimana menurutmu poin tentang etika? Apakah ada usul lain yang bisa dilakukan saat ada teman mengirimkan gambar yang membuat tidak nyaman? Beri kesempatan pada siswa/anak untuk bertanya sebaliknya.

  1. Singkat

Agar mudah diingat dan efektif dalam pelaksanaannya, kesepakatan dibuat singkat.

Contoh: Buat kesepakatan dari poin-poin yang diawali oleh tiap huruf awal dalam kata DIGITAL.

  1. Dibuat tertulis dan mudah diakses sewaktu-waktu

Letakkan di tempat yang mudah dilihat, seperti di dinding kelas, di depan pintu kamar, di folder media pada grup chat. Bantuan visual atau berupa poster dapat memudahkan untuk mengingat dan lebih menarik untuk dibaca.

  1. Memuat konsekuensi atas pelanggaran

Tak jarang sebuah pelanggaran diikuti dengan konsekuensi alami bagi pelanggarnya, misal: merasa tidak nyaman sendiri, malu, dll.

Sebelum menentukan sebuah konsekuensi, lihat situasinya apakah pelanggaran tersebut memerlukan konsekuensi tambahan, seperti: penarikan gawai dari siswa/anak untuk sementara waktu. Hindari konsekuensi yang bersifat “hukuman”, misalnya: melibatkan fisik atau tidak menjaga harga diri siswa/anak. Hukuman tidak memberikan pengalaman belajar yang baik.

Contoh: Saat ada yang menyebarkan informasi yang ternyata terbukti hoax atau belum terkonfirmasi, konsekuensinya adalah mengklarifikasi ke setiap pihak yang telah dikirimi informasi tersebut dan membuat resolusi agar lain waktu akan berusaha lebih baik dan kemudian menyatakan maaf.

  1. Evaluasi berkala

Seiring tahap perkembangan anak dan perubahan situasi, diperlukan evaluasi atas kesepakatan. Karena adanya kebutuhan yang bertambah/berkurang, evaluasi atas kesepakatan pun secara berkala mutlak dilakukan. Hal ini penting disebutkan di awal saat membuat kesepakatan agar semua pihak dapat berperan aktif seiring berjalannya penerapan kesepakatan.

Survey Fakta Singkat